Sabtu, 27 November 2010

Seberapa pantaskah?

Aku mau menulis tentang bagaimana seseorang bisa menyatakan diri pantas menjadi pasangan seseorang. Tapi, sejak setengah jam yang lalu, aku belum juga bisa meramu kata-kata. Untung, aku bukan salah satu dari mereka yang diminta Kepala Sekolah untuk menulis buku. Kapan jadinya buku itu kalau setiap kali ingin menulis ide yang sudah terbentuk di kepala namun kata-kata yang muncul tidak juga merepresentasikan ide tersebut ? Tapi itu bukan berarti aku nggak boleh bikin buku kan ya ?

Kembali ke topik. Seberapa pantaskah dirimu untuk kuandalkan ? Penggalan lirik lagu Sheila on 7 yang lagi jadi hits di chart kepalaku. Siapa yang bisa menjawab itu ? Aku ? Atau kamu ?

Menurutku memang kamu sendirilah yang harusnya menjawab itu dengan jalan pembuktian bahwa dirimu memang bisa diandalkan. Semua orang punya hak asasi; hak hidup, hak untuk beragama, hak untuk memiliki sesuatu, apa lagi ya? Aku percaya kalau kita juga punya hak untuk punya perasaan suka ke orang lain. Dan hak itu nggak bisa diganggu gugat kecuali oleh diri mereka sendiri, entah hak itu masuk dalam hak asasi yang tercantum di buku pelajaran PKN atau tidak. Beda kasus kalau ternyata rasa suka itu menimbulkan kerugian pada satu pihak atau malah keduanya. Nggak sehat namanya. Jadi, selama semua berjalan dengan wajar ya nggak ada masalah dong ? Kalau diri sendiri aja sudah nggak merasa yakin bagaimana orang lain bisa percaya pada kita, ya kan ?

Jadi cinta, kamu harus yakin pada dirimu, pada hatimu, pada perasaanmu…

Untukku kan ya ?

Minggu, 10 Oktober 2010

setahun kemarin

Wow,, nyaris setahun aku ga pernah menengok situs ini...

Selasa, 17 November 2009

Page 1

Page 1

"Za, cari makan yuk!" Aku selalu bingung memilih makanan di foodcourt. Terlalu banyak pilihan untuk dicoba. Tapi sedikit beresiko memilih makanan tanpa tahu kualitas rasa. Rasa sesal yang datang kalau ternyata rasanya tak sepadan dengan harganya tak tertahankan. Alhasil, yang dipilih itu-itu lagi.

Inka dan aku berdiri mengikuti Neeza yang sudah terlebih dahulu memesan jus di konter minuman terdekat. Mie goreng cakalang menjadi tujuanku. Inka memilih menu bakmi ayam favoritnya.

Arisan bulan ini semestinya dilaksanakan di rumah Neeza, namun ternyata program renovasi yang dijadwalkan mulai bulan depan maju beberapa minggu lebih awal agar renovasi dapat selesai sebelum lebaran. Angan-angan bisa makan teriyaki enak buatan tante Fifi musnah. Sayang, bukannya makan di resto khusus malah kami dibimbing ke foodcourt. Yang penting sih gratisan.

"Gw ke D'Crepes ya." Inka dan Neeza kembali ke meja tempat yang lain mulai sibuk melahap makanan - bagi mereka yang sudah dapat pesanannya. Sementara aku membeli D'Crepes fla blueberry untuk dessert. Khawatir berat badan? Peduli amat. Salah satu prinsipku adalah makan untuk hidup, jadi kalau tidak makan berarti aku punya masalah dalam hidup.

Seorang teman pernah bilang bahwa curve is more sexy than skinny, don't you think so? Sebenarnya sih, itu hanya pembelaan diri semata. Siapa yang ngga suka dibilang seksi? Aku pribadi lebih suka dibilang manis dan sehat. Untuk itu aku ngga pernah melakukan sesuatu yang bodoh seperti berhenti makan hanya untuk menurunkan berat badan. Olahraga neng, itu kata sepupuku.

Duh, kenapa aku jadi teringat sepupuku itu? Sepupu terlarang, yang bahkan untuk teringat dia pun adalah sesuatu yang tak boleh aku lakukan sama sekali. Hhh, nasib memang kejam - atau takdir yang kejam? Mirip lagunya Desi Ratnasari ya, lagu yang dicekal MUI karena dianggap menghujat Tuhan sang penentu takdir. Kenapa bisa seperti itu? I don't really know.

Itu siapa ya? Ada seorang pria berdiri di dekat meja tempat kami kumpul. Apa dia teman salah satu temanku? Atau pacar? Wajahnya lumayan. Hoho, jangan mulai Aziza, gimana kalau itu ternyata pacar temanmu? Jangan mengulangi kesalahan yang sama.

Siapa yang berniat jatuh dalam lubang yang sama sih?

"Nama kamu siapa?" tanya cowok itu saat aku mendekat sambil menaruh D'Crepes dan minumanku.
"Ini siapa?" aku bertanya pada Inka yang kebetulan berada tepat di arah pandangku.
"Begini," cowok itu menjawab, "saya dan teman-teman sedang bermain truth or dare dan saya dapat dare untuk menanyakan nama semua yang duduk di meja ini."
"Oh," ujarku. Sesudah itu aku langsung melangkah menuju toilet. Sejak di konter D'Crepes aku sudah menahan keinginan ke kamar kecil.

This Day in History

Baris Video

Loading...